Kasus-kasus Malpraktik Perawat di Indonesia - HealthDaily.ID

Kasus-kasus Malpraktik Perawat di Indonesia

Malpractice

Di Indonesia sudah banyak kasus terkait malpraktik perawat. Entah disengaja ataupun tidak disengaja. Berikut adalah beberapa kasus malpraktik perawat di Indonesia




Perawat mengaku dokter spesialis bedah

Pada tahun 2012, seorang pasien laki-laki berusia 42 tahun, datang ke sebuah klinik tempat perawat membuka praktik. Pasien mengatakan kepalanya terasa pusing dan ada benjolan dibagian punggung. 


Perawat pemilik klinik menyarankan agar benjolan dipunggung pasien dibedah karena merupakan penyebab dari penyakitnya. Pasien dan keluarga kemudian meminta agar dirujuk ke Rumah Sakit, tetapi sang perawat mengatakan tidak perlu dirujuk karena dirinya juga bisa melakukan pembedahan dan merupakan dokter spesialis bedah.

Pasca operasi, kondisi pasien tidak kunjung membaik, bahkan pandangannya semakin buram, diikuti dengan adanya gangguan pendengaran dan akhirnya menjadi lumpuh.

Keluarga kemudian memeriksakan pasien ke Rumah Sakit, dan dinyatakan adanya syaraf yang putus akibat pembedahan yang dilakukan oleh perawat. Sumber 

Terseret-seret Dokter & RS
Tahun 2015, seorang anak menderita penyakit spendile tumar, dan disarankan untuk dilakukan pembedahan oleh dokter. Sehari pasca operasi, pasien dirujuk ke RS lain karena kedua tangan membiru. Setelah dirawat selama 71 hari, kondisi kian memburuk sampai akhirnya meninggal dunia.
Menurut keluarga, sebelum pasien meninggal dunia, ada tiga orang dokter dari RS yang pertama dating kerumah keluarga dengan membawa uang sejumlah Rp. 400 juta sebagai kompensasi.

Keluarga yang tidak terima kemudian melaporkan ke pihak yang berwajib untuk di selidiki. Hasil pemeriksaan pihak berwajib mengatakan bahwa dokter bedah dan dokter anestesi yang melakukan operasi tidak memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di RS tersebut. 

Kedua dokter dan juga direktur RS tersebut kemudian dianggap melakukan pelanggaran UU RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan diancam untuk dihukum selama 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 300 juta.

Tiga orang perawat yang juga ikut dalam prosedur pembedahan juga ikut terseret dalam kasus ini. Diberitakan bahwa perawat dijerat pelanggaran Pasal 365, 361 KUHP dan Pasal 76 Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 2009 tentang Praktik Kedokteran juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, dengan ancaman hukuman 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Sumber


Salah infus
Seorang bayi datang ke Rumah Sakit dengan keluhan muntah-muntah dan mendapatkan terapi intravena. Saat akan mendapatkan infus kedua, keluarga menyadari bahwa infus yang akan dipasang tertera nama orang lain. 

Keluarga kemudian protes dan menanyakan kepada perawat yang akan memasang, akan tetapi sang perawat tetap ngotot bahwa infus tersebut adalah benar. Selang beberapa jam kemudian bayi tersebut meninggal dunia. Sumber

Salah obat
Seorang bayi perempuan berumur 34 hari menderita mencret dan oleh ibunya dibawa ke klinik praktik mandiri seorang dokter. Oleh dokter, bayi tersebut kemudian dirujuk ke Rumah Sakit. 

Sesampainya di rumah sakit, sang bayi diberikan terapi intravena. Tiga jam kemudian, seorang mahasiswa keperawatan yang sedang berpraktik di RS tersebut dating untuk memberikan dua jenis obat, yaitu Naritidin 50 mg, dan Naufalgis 45 mg atas perintah perawat seniornya.

Ibu pasien yang juga merupakan seorang perawat berulang kali bertanya kepada mahasiswa keperawatan tersebut, “apakah benar ini obat buat anak saya?”, yang kemudian dibenarkan oleh mahasiswa tersebut. 

Sang ibu kemudian memberikan sendiri obat tersebut kepada anaknya melalui bolus. Selang beberapa menit kemudian, anaknya mengalami kejang-kejang, muntah, perut kembung dan lemas. Saat ibu menanyakan ulang dan melihat map tugas mahasiswa tersebut, ternyata obat tersebut bukan untuk anaknya, tetapi pasien lain.

Ketika ibu sang bayi mengkonfirmasi kepada perawat senior yang memberikan instruksi kepada mahasiswa tersebut, perawat malah tidak terima dan mengatakan “Silahkan mau melapor ke mana, saya siap."

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RS mengatakan pemberian obat Naritidin 50 mg, Naufalgis 45 mg sudah ada dalam rencana akan tetapi belum diintruksikan oleh dokter untuk secepat itu diberikan ke pasien. Seharusnya saat pemberian obat siswa yang sedang melakukan praktek didampingi perawat  senior, tidak dibiarkan sendirian. 

Perawat tersebut sudah diberikan teguran dan akan dilakukan pembinaan serta diistirahatkan sementara. Dan untuk siswa yang sedang melakukan praktek akan dikembalikan ke kampusnya. Sumber 

Salah Transfusi 

Pada tahun 2016, seorang perempuan berusia 56 tahun dirawat di RS dengan diagnosa Diabetes Mellitus. Tiga hari kemudian pasien mendapat transfuse darah dengan golongan darah B. Usai transfusi darah, pasien langsung kejang-kejang, diikuti mual-mual dan muntah keesokan harinya. Empat hari pasca transfuse pasien di instruksikan untuk pulang ke rumah.

Dirumah, pasien kembali mengalami kejang-kejang, sehingga pihak keluarga pasien kembali ke RS yang sama, karena kondisinya sangat lemah. Keesokan harinya, pasien kembali akan dilakukan transfusi darah. Saat itulah keluarga merasa ada kejanggalan karena golongan darah yang ditransfusikan adalah golongan darah O, bukan B Sumber

Buntut dari kejadian ini, sang perawat yang melakukan transfusi akhirnya divonis 8 bulan penjara. Sumber



Apakah teman sejawat pernah mengalami hal serupa?. Silahkan bagikan pengalaman teman sejawat di kolom komentar.

leorulino.com: Blog Hukum Kesehatan Terbaik di Indonesia